Gusti Hendy (Drummer Gigi Profile)

Jumat, 08 Januari 2010

Gusti Hendy - Drummer
Fans GIGI yang Menjadi GIGI

Budhy Haryono

Tahun delapan puluh tujuhan di Banjarmasin dan sekitarnya bila ada acara-acara sering ditampilkan sebuah band yang waktu itu cukup punya nama di seantero Banjarmasin, Pawakha Band sebagai penghiburnya. Satu keunikan dari band ini, di tengah-tengah penampilannya akan menyuguhkan sebuah gimmick yang akhirnya menjadi ciri khas Pawakha band hampir pada setiap kesempatan tampil dan menjadi satu ‘atraksi’ yang ditunggu-tunggu oleh penontonnya.
‘Atraksi’ apa gerangan? Di tengah-tengah Pawakha Band membawakan lagu-lagunya..tiba-tiba muncul anak kecil berumur tujuh tahun dan langsung duduk di belakang drums menggantikan posisi drummer Pawakha, dan digebraklah satu lagu rock yang saat itu cukup populer dengan rancak oleh si drummer cilik itu dan menimbulkan decak kagum sebaian besar penonton yang ada.
Gusti Erhandy Rakhmatullah, begitu nama lengkap drummer cilik itu. Ya! Itu memang Hendy yang sekarang menduduki “kursi” drum GIGI.
Masih berkisar sekitar masa kanak-kanak Hendy di Banjarmasin. Dia pertama kali kenal dengan perangkat drum saat di rumahnya sering diadakan latihan band kakaknya. Seperti anak kecil pada umumnya kalo ada seperangkat alat band pasti yang paling menarik adalah drum. Begitu pula dengan Hendy kecil, kalo band yang latihan itu lagi rehat, yang disatroni dipake mainan Hendy pasti drum. Dasar memang talentanya Hendy di drum, anak-anak band yang lagi latihan melihat Hendy mukul-mukulnya biar cuman main-main asal mukul tapi iramanya bener. Maka diusulkanlah ke ortu Hendy agar Hendy bakatnya diarahkan aja.
Kebetulan saat itu belum nemu guru drum yang cocok buat Hendy, maka guru keyboard kakaknyalah yang didaulat untuk kasih les drum ke Hendy. Memang ga bisa detil, cuman basic-basicnya aja, lebih dikonsentrasikan ke belajar not balok, harga-harga not, beat-beat, belum sampe ke soal teknik bermain yang kompleks. Mungkin karena memang udah bakat, hanya beberapa bulan Hendy kecil udah bisa mainin beberapa lagu. Dan jadilah Hendy “bintang tamu” Pawakha Band kalo lagi manggung.
Kebetulan di Banjarmasin juga ada pemain bass & gitar cilik berbakat yang sebaya dengan Hendy. Akhirnya dibentuklah band bocah dengan nama “Little Pawakha Band” dengan formasi trio Drum, Gitar dan Bass yang merangkap vokalis. Mungkin saat itu ter-influence ama formasi grup rock gaek asal Surabaya, SAS (yang juga berformasi trio)yang memang sedang naik daun.

Kurang puas dengan ilmu yang didapat dari musisi senior lokal Banjarmasin, Hendy dan kakaknya setiap sekolahnya libur panjang, menyempatkan diri ke Jakarta untuk les ke musisi Jakarta. Hendy yang waktu itu sudah kelas empat SD (1989) pengen banget belajar ke Gilang Ramadhan. Sayang karena padatnya jadwal Gilang, Hendy hanya berkesempatan belajar ke asisten Gilang, Lemmy Ibrahim di Indra Lesmana Workshop (Sekolah Musik Farabi).
Ada cerita unik waktu Hendy les drum di Farabi. Lagi konsentrasi di salah satu kelas, tiba-tiba ada yang nengok. Si penengok menyapa Hendy kecil dan ngomong : “Sini gua gitarin”, (rupanya si penengok itu pemain gitar). Kayaknya si gitaris merasa gemes ngelihat drummer ke cil yang lucu dan permainan drumnya sudah cukup piawai itu hingga pengen iseng-iseng nge-jam. Maka terjadilah sebuah jam session kecil-kecilan antara Hendy dan gitaris tadi. Saat itu juga ada Indra Lesmana dan Gilang Ramadhan yang temannya si gitaris tadi. Belakangan baru ketahuan kalo pemain gitar tadi ternyata Dewa Budjana (waktu itu belum terbentuk GIGI).
Unik dan lucu dua musisi, yang satu masih anak-anak berumur 9 tahun dan satunya sudah 26 tahun ketemu dan main bareng. Dan sekarang, lima belas tahun kemudian, dua orang itu nge-band bareng di GIGI.
Masa libur hampir usai Hendy pun balik ke Banjarmasin. Hendy lumayan dapat bekal teknik-teknik bermain drum untuk dikembangkan sendiri di rumahnya. Syangnya drummer kecil ini belum serius banget di dunia musik. Main drum buat dia masih seperti mainan aja sama halnya dengan mainan anak-anak pada umumnya seperti games dan sebagainya. Jadi kadang-kadang kalau lagi bosan juga nggak disentuh sama sekali.

Tahun 1990 saat liburan panjang tiba, Hendy dan kakaknya pun kembali bertandang ke Jakarta untuk mencari kesempatan menambah ilmu musiknya. Obsesinya pengen belajar ke Gilang nggak pernah luntur. Nasib Hendy belum lagi beruntung, Seperti tahun lalu Gilang jadwalnya masih padat juga sehingga belum ada waktu buat kasih les drum ke Hendy. Sang kakak yang pemain keyboard menunya tahun ini menimba ilmu ke Andy Ayunir. Nah sama Andy Hendy ditawarin les sama kakanya, Arir Ayunir yang waktu itu drummer Potret.
Tak ada rotan akar pun jadi, maka Hendy pun mengiyakan untuk les ke Arie Ayunir. Hampir sebulan penuh Hendy mentransfer ilmu-ilmu drum dari Arie.
Dianggap sudah cukup bertambah ilmu dan ‘jam terbang’nya dua personel “Little Pawakha Band” Hendy dan Amin (pemain bassnya) dinaikkan ‘pangkat’nya jadi personel “Pawakha Band” (nggak little lagi, meskipun benernya termasuk masih bocah). Dengan formasi baru itu Pawakha ngikut Festival Rock-nya Log Zhelebor, sayang nggak sampe masuk babak final.

Tahun berikutnya (1991) dengan ‘semangat 45’ Pawakha kembali ikutan festival band. Kali ini bukan versi Log Zhelbeour. Tapi sama-sama tingkat nasional yang diadakan di Bandung. Dan dewi fortuna sedang berpihak, Pawakha berhasil membawa pulang ke Banjarmasin trophy juara pertama. Lebih lengkap lagi Hendy juga meraih predikat drummer terbaik, juga pemain gitarnya.

Masa SMP (1992 – 1995) Hendy dan band SMP-nya merajai festival-festival band antar SMP maupun umum di Banjarmasin dan Kalimantan. Lucunya ikutan festival itu targetnya bukan band-nya pengen menyabet juara tapi cuman the best drummer aja.
Di masa hendy SMP itulah GIGI lahir (tepatnya 22 Maret 1994), dan ternyata Hendy ngefans banget ama GIGI. “Waktu itu koleksi gue yang terlengkap untuk band Indonesia ya cuman GIGI doang, lengkap dari album pertama sampe yang terbaru”, cerita Hendy. “Lebih-lebih gue ngefans berat ama Ronald, sampe-sampe album siapa pun kalo yang ngedrum Ronald pasti gue beli walo gue ga seneng lagunya”, sambung Hendy. Kefanatikannya ama GIGI kebawa juga ke band-nya yang juga bawain lagu-lagu GIGI.

Saat SMA Hendy mulai merasakan dan berpikir bahwa jalur hidupnya adalah main musik. Dari yang hanya main-main waktu kecil hingga SMA dia semakin menyadari kalo gak bakal bisa lepas dari main musik. Dia mulai mereka-reka lulus SMA nanti dia gak akan memilih kuliah di jurusan yang butuh konsentrasi pemikiran yang berat. Dia lebih pengen konsentrasi di musik, kuliah cuman sambil lalu aja. Meskipun dia tahu itu pemikiran yang cukup kontroversial di keluarganya. Sama halnya dengan keluarga / orang tua pada umumnya, yang ideal bagi mereka kuliah adalah nomor satu! Dan satu trauma sudah terbayang di pelupuk mata. Kakaknya yang juga nge-band, pas udah kuliah ‘terpaksa’ harus stop nge-band-nya, karena rambu-rambu “kuliah no.1” sedikit terlanggar.
Hendy harus bener-bener bisa menyiasati agar “kuliah no.1”, “nge-band (juga) no.1” gitu kali ya Hen! Dan itu perlu pembuktian!

Saatnya pun tiba, 1998 Hendy lulus SMA dan memilih kuliah di Jakarta. Wow! Rasanya semakin deket aja ama cita-citanya! Yang pertama, satu keinginannya yang belum pernah kesampean akhirnya bisa juga : Les drum ke Gilang Ramadhan! Nyesuaiin jadwal les ama kesibukan Gilang jadi lebih mudah karena Hendy udah tinggal di Jakarta.
Gimana aktivitas nge-band Hendy setelah kuliah di Jakarta? Karena masih baru di Jakarta jadi ya masih sekitar band kampus aja.
Belakangan Hendy ngebentuk band yang diberi nama “Fresh” (yang kemudian ganti nama “Pawakha”). Udah sempet bikin demo yang rencananya albumnya bakal diproduseri oleh Gilang. Tapi entah karena apa rencana album itu kandas di tengah jalan.

Terancam “Undang-Undang Kuliah No.1”

Tahun kedua di Jakarta, Hendy mendapat tawaran untuk menggatikan posisi drummer band-nya teman Gilang yang main reguler/rutin di sebuah café di Jakarta. Pucuk dicinta ulam tiba! Mulai melebarkan sayap nih! Tawaran itu di oke-in aja sama Hendy dan dia diminta datang ke café tempat band itu manggung rutin.
Pada saat yang telah ditentukan datanglah Hendy ke café tersebut. Dan…..Hendy kaget bukan main, ternyata yang main di band itu diantaranya Donny Suhendra, Mates, Albert Warnerin…musisi-musisi yang udah senior banget bagi Hendy…….
“Ah cuek aja….yang penting dicoba”, kata Hendy dalam hati. Dan lebih parah lagi, setelah pertemuan pertama itu, besoknya langsung Hendy yang harus nge-drum di band pengusung musik blues ‘n jazz yang bernama “Big City Blues” itu, lantaran pemain drumnya memang sudah cabut ke luar negeri.
“Nggak pake latihan, nggak tau lagunya……….langsung main…bayangin aja…apalagi ama senior-senior gitu mainnya”, ungkap Hendy. “Paling main sekali kalo mereka gak cocok juga diganti lagi”, sambungnya.
Ternyata dugaannya meleset. Hendy terus lanjut di “Big City Blues”, meski dengan omelan-omelan dari “Oom-Oom” itu, begitu Hendy mengistilahkan partner mainnya yang memang jauh lebih tua dari Hendy.
Dari kondisi tersebut justru Hendy semakin banyak belajar. Lebih paham komposisi, lebih bisa main dengan ‘rasa’ “Nggak cuman asal heboh aja…”, unhgkap Hendy. “Terlebih lagi band itu nggak pernah pake latihan…langsung main. Justru itu buat gue lebih mengasah imajnasi gue saat bermain musik”, sambungnya lagi. Singkatnya bermain musik di “Big City Blues” sangat bermanfaat bagi Hendy buat menambah pengalaman dan tentu saja ilmu-ilmu non formal yang didapat dari teman-teman seniornya yang ‘rajin’ ngomelin tadi.
Satu hal lagi yang nggak kalah pentingnya. Di “Big City Blues’lah debut Hendy sebagai pemain profesional dalam artian mendapat honor sebagai imbalan mainnya. “Lumayanlah…dari kebiasaan cuman jagain kiriman dari ortu di Banjarmasin…sekarang udah megang duit sendiri”, ungkap Hendy sambil ketawa.
Tapi hal itu bukannya nggak mengandung konsekuensi…. Karena manggungnya hampir tiap hari…kuliahnya mulai goyah. Nah lo! Gimana dengan “undang-undang kuliah No.1”? Alhamdulillah ‘krisis’ itu nggak berlarut-larut. Hendy dengan segala konsekuensinya bisa melewatinya dan membuktikan ke ortunya bahwa memang : “Kuliah No.1”, “Ngeband (juga) No.1”. Tahun 2003 dia diwisuda sebagai sarjana komunikasi.

Kejutan, Kejutan dan Kejutan

Selain manggung rutin di café, “Big City Blues” juga manggung rutin di “Blues Night” salah satu acara TVRI.
Dari kiprah “Big City Blues” di TVRI inilah Jockie Suryoprajogo keyboardist Godbless tertarik dengan permainan drum Hendy. Untuk proyek pergelaran Rock Opera-nya, Jockie pengen Hendy yang nge-drum.
Jockie sendiri yang langsung telepon Hendy. “Halo…Hendy…ini Jockie…”, tiru Hendy. Haaah? Jockie Surjoprjogo yang legend itu? Ini kejutan kedua bagi Hendy sejak di Jakarta setelah diajak gabung “Oom-Oom” di “Big City Blues”.
Dan memang di pergelaran Rock Opera Jockie Surjoprajogo yang di gelar di Plenary Hall JCC 29 Agustus 2002 lalu Hendy-lah yang ‘menduduki’ posisi drummer-nya.
Dari Jockie Hendy banyak belajar tentang filosofi musik….dan tentu saja kembali ber-rock-ria setelah jenis musik itu beberapa masa ditinggalkan semenjak duduk di bangku SMA.

Seakan kejutan estafet…..Hendy mendapat telepon dari manajemen Erwin Gutawa Orchestra yang ngajak dia buat main di pergelaran “Bali for The World” akhir tahun 2002.
Erwin Gutawa??? Orchestra???? Itu cuman khayalan Hendy saat dia nonton pergelaran-pergelaran Erwin dan orchestranya via televisi. “Kapan ya….bisa main sama orchestra gitu…”, kenang Hendy.
Usut punya usut ternyata Erwin nonton pergelaran Rock Opera-nya Jockie…dan terpikat juga dengan permainan drum Hendy.
Maka jadilah Hendy drummer Erwin Gutawa Orchestra di acara “Bali for The World” yang digelar di GWK Bali akhir tahun 2002.
Ngaak cuman itu aja, job Hendy berlanjut di konser-konser besar, maupun studio rekaman yang musiknya digarap Erwin Gutawa, setelah itu Erwin sering ‘memakai’ Hendy sebagai drummernya.

Tahun 2003 Hendy gabung dengan “Telor Ceplok Band” yang akhirnya namanya berubah jadi “Omelette”. Sempat bikin album di bawah bendera POS Entertainment.
Karena perbedaan prinsip dan pertimbangan lain akhirnya Hendy mengundurkan diri dari Omelette.
Saat di Omelette inilah Hendy semakin akrab dengan personel GIGI. Selain GIGI satu manajemen dengan Omelette (POS entertainment), 4 lagu di album Omelette yang perdana adalah lagu karya Thomas dan Budjana (masing-masing 2 lagu).
Hendy sempat juga diajak Budjana untuk latihan-latihan dengan formasi trio : Budjana (gitar), Hendy (drums), Adit (bass).

Suatu saat di tahun 2004 Hendy ditelepon Budjana dan diajak latihan. Pikir Hendy seperti biasanya…..latihat formasi trio. Kaget juga saat Hendy dikasihtahu kalo latihan kali ini adalah latihan dengan GIGI dalam rangka persiapan album Sound Track Brownies.
Dan memang Hendy dipilih GIGI untuk menggantikan posisi Budhy Haryono. Beban yang lumayan berat buat Hendy. Beda dengan saat diajak Donny Suhendra dkk, diajak Jockie juga Erwin Gutawa yang cuman sebagai session player. Karena selain memang Hendy ngefans abis sama GIGI, dia merasa harus memikul tanggung jawab baru yang nggak main-main. Karena GIGI adalah grup band yang sudah mapan dan menggantikan posisi Budhy yang juga termasuk jajaran drummer senior yang disegani di blantika musik Indonesia. Sementara Hendy masih merasa drummer kemaren sore. Sebagai “GIGI” baru dia merasa secara moral memikul tanggung jawab terhadap fans GIGI, publik, dan pengamat musik.
Sampai-sampai sebelum masuk studio rekaman untuk menggarap album Original Sound Track Brownies Hendy merasa perlu untuk latihan individu dulu sebagai persiapannya. Hal yang nggak pernah dia lakukan sebelumnya saat dia akan masuk dapur rekaman sebagai session player.
Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Dan Hendy sekarang adalah “GIGI” terbaru dan termuda di jajaran tiga “GIGI” lainnya.

Dan Hendy jadi ingat sekitar 10 tahun silam ketika dia masih sekolah di Banjarmasin, saat masih getol-getolnya nge-fans ama GIGI. Dia pernah berujar ke teman-teman band-nya : “Aku ntar yang jadi drummer GIGI”. Hendy sendiri nggak bisa jawab ketika ditanya apa yang menyebabkan dan memotivasi dia berucap seperti itu. Believe it or not!
»» Read More

Tips Memilih Stick Murah Berkualitas

Tips Memilih Stick Murah Berkualitas

Banyaknya jenis drumstick yang beredar di toko musik Indonesia. Di mulai dengan harga ribuan perak perpasang di toko musik sampai dengan ratusan ribu perpasang.

Bahkan stick drum itu sendiri mempunyai beberapa ukuran antara lain ukuran 7a, Jazz, 5a, Rock, 5b dan 2b, yang terdapat di musik online. Pada akhirnya timbul pertanyaan, Bagaimana cara memilih stick musik murah yang baik di toko musik murah?

Beberapa merk yang dapat di andalkan dan yang beredar di Indonesia adalah: Vic Firth, Pro Mark, Johny Rabb, Zildjian, Tama, Vater, Ahead & Regal tip. Bahkan ada beberapa stick musik yang dipalsukan antara lain, ialah merk dari Zildjian, Pro Mark (hot rods) dan Vater. Tapi jika loe teliti, loe dapat langsung menebak bahwa stick itu palsu di toko musik. Kelemahan stick palsu yang ada di tokomusik online adalah: Kedua stick tidak seimbang, kayu terasa kopong, sangat mudah patah, logo pada stick tidak rapih dan banyak yang tidak lurus alias bengkok. Jika stick untukmusik online yang loe ingin beli termasuk dalam daftar nama-nama yang sering dipalsukan, maka loe harus sangat teliti dalam memilih. Ikuti langkah2 berikut:

1. Jika stick itu dibungkus dalam plastic di toko musik murah, periksalah secara teliti dengan mengeluarkan dari plastiknya.
2. Pegang dan rasakan apakah masing2 stick beratnya berbeda. Jika iya, jangan beli stick musik murah itu, karena stick musik yang kuat haruslah terasa sedikit lebih berat dan tidak kopong.
3. Jika stick sudah seimbang. Gelindingkan stick dipermukaan yang rata seperti meja kaca atau lantai marmer. Ketika stick itu berputar, perhatikan ujung stick. Jika bergoyang2 maka stick itu tidak lurus dan jangan membelinya.
4. Coba mainkan stick itu dipermukaan yang tidak keras seperti karpet. Apakah sudah sesuai dengan selera anda?
5. Yang terakhir adalah mengetes pitch dari stick drum itu sendiri. (kalau loe mau stick yang sempurna) Pukul masing2 stick pada permukaan ride cymbal, gunakan ujungnya. Jika kedua stick itu tidak menghasilkan pitch yang sama… jangan dibeli! Atau mungkin sebagai saran, simpan saja dulu dan coba yang lain.

http://ahyaansyari.blogspot.com/

»» Read More

CARA MEMILIH DRUM BEKAS (Second)

CARA MEMILIH DRUM BEKAS (Second)

Semakin mahalnya harga instrumen musik, membuat banyak orang untuk berpikir dua kali untuk memiliki instrumen musik yang baru. Beberapa tahun terakhir ini tampak semakin marak jual-beli instrumen bekas (second). Hal ini mungkin disebabkan pula oleh kondisi ekonomi negara kita yang belum stabil. Karena itu, memilih barang bekas (untuk berbagai kebutuhan) sering dijadikan alternatif karena tentunya harga yang ditawarkan lebih terjangkau kantong pembeli.

Memilih barang bekas, dalam hal in instrumen musik, diperlukan kehati-hatian. Bisa-bisa kita salah memilih barang. Barang yang penampilannya kelihatan bagus belum tentu bisa menghasilkan suara yang sempurna atau yang seperti kita inginkan, begitu pula sebaliknya. Untuk itu, perlu diketahui beberapa tip atau pengertian tentang barang yang akan dibeli.

Berikut ini adalah beberapa tip yang sekiranya perlu diketahui pada saat Anda akan memilih set drum bekas.

  1. Tension Rods
  2. Periksalah apakah tension rods ini masih berfungsi dengan baik, kemudian cek dratnya. Jika kondisinya agak berkarat, jangan takut karena hal ini cukup mudah untuk mengatasinya. Cukup dibersihkan dengan sikat atau kuas. Sebelum dibersihkan, sebaiknya direndam dulu dengan bensin.

  3. Ring/Hoops
    Lihatlah, apakah permukaan ring/hoopsnya rata/sharp karena jika tidak rata/bengkok, hal ini akan membuat suara tom menjadi Overtone/Flanging. Hal ini dapat dirasakan saat kita memainkan drum tersebut.
  4. B.D. Spurs
    Kaki pada bus drum amat penting diperhatikan karena jika kondisinya tidak stabil/tidak kokoh, akan mempengaruhi permainan seorang drummer. Tentu saja, kaki drum semacam ini tidak akan bisa menyangga seluruh komponen drum saat di set. Bisa-bisa set drum berantakan saat seorang drummer memainkan drumnya.
  5. Hardware
    • Cara mengetesnya, setlah dengan kondisi simbal terpasang. Jika goyang atau masih bisa diputar tiangnya sementara tripodnya tetap, berarti ada masalah di rumah wing nut (sudah aus).
    • Pedal: Cobalah pada posisi seting di bass drum. Jika pantulan PJ pemukul pedal kurang suspensinya (wrong flexible), cek per samping kemudian kencangkan. Jika tidak juga berfungsi, berarti pernya sudah lemah (gear). Pada kedua sisinya, bola didalamnya sudah banyak yang pecah sehingga mengurangi akurasi pada pedal secara keseluruhan.
    • Niklat: Periksa suspensinya (juga di cek dalam keadaan set), periksa hi-hat clutch/pengunci cymbal hi-hat. Dapat dites dengan cara memainkan floorboard hi-hat. Kalau kondisinya sudah tidak sempurna, maka suara hi-hat yang dimainkan menjadi tidak rata.
  6. Periksa kondisi boom stand, straight stand, snare stand, kaki karet, wing bell, tripod brace, wing nut, cymbal filter, busa, dan memory lock. Biasanya hardware semacam ini kurang begitu diperhatikan, karena kebanyakan seseorang lebih memperhatikan penampilan dan soundnya saja. Padahal hardware ini akan banyak mempengaruhi stabilitas drum itu sendiri.
    Ada beberapa cara untuk mengetesnya, yaitu:

  7. Shell
  8. Teliti dengan baik kondisi kayu pada tom, misalnya, bearing aedge, tickness, ada retak atau tidak, permukaan pada shell rata atau tidak, ini sangat vital/utama karena sangat berhubungan dengan kualitas suara/tone. Begitupula pada shell yang terbuat dari bahan steel, termasuk kunci pada shellnya.

  9. Drumhead
  10. Periksa keadaan kulit/drumhead pada tom, floor, snare, dan bass drum. Khusus snare drum, lihatlah permukaan snare bed atau tatakan untuk snappy, juga kondisi on/off pada stranner, apakah masih berjalan dengan baik. Dreamhead termasuk perangkat yang cukup vital untuk melihat kondisi set drum. Jika drumhead tersebut sudah berlobang/robek atau aus, sebaiknya ganti dengan drumhead yang baru karena hal ini sangat mempengaruhi sound, walaupun kondisi spare part lainnya cukup bagus.

  11. Tom Holder
  12. Periksalah dalam keadaan terkunci dengan kondisi yang kencang. Apakah tom dalam keadaan kokoh atau masih bergoyang/bergeser, cek memory lock yang ada pada clamp, kemudian kendurkan dan setlah pada ukuran yang diinginkan, lalu kencangkan kembali. Kondisi tom holder yang kurang stabil tentunya akan mempengaruhi kenyamanan seorang drummer saat memainkan set drumnya.

  13. Bracket Mount
  14. Bracket berhubungan dengan tom dan bass drum. Periksalah bautnya, apakah drat pada wing hat masih dalam kondisi baik atau sudah aus. Apabila dratnya kotor/berkarat, ini bisa dibersihkan dengan cara seperti membersihkan tension rods. Akan tetapi, kalau kondisinya aus, kestabilan drum itu sendiri sulit terjamin.

  15. Lugs
  16. Periksa kondisi masing-masing lugs satu persatu. Biasanya, drum yang berusia tua/tak terawat mempunyai problem crack (pecah) pada lugs. Hal ini juga berhubungan dengan stabilitas set drum itu sendiri, yang juga akan mempengaruhi kenyamanan permainan.

    Beberapa tips di atas mungkin akan dapat memberi sedikit gambaran bagaimana sebaiknya memilih drum bekas. Setidaknya mengurangi sedikit mungkin kesalahan dalam memilih drum bekas yang akan dibeli. Selamat berbelanja.

Sumber: Majalah Manly

»» Read More

Mr.Big Profile


"Mr.Big got their start when William Roland Sheean (Billy) stepped away from David Lee Roth's first post-Van Halen band, after contributing to two albums and numerous major tours. The Buffalo, New York-born bassist had already honed his considerable skills during a decade spent touring with his band, Talas, but with the recruitment of Martin (Eric) in 1988, he knew the foundation for this ultimate musical venture was well in place. Martin (who was born in Long Island, New York, but grew up all over the world as an Army brat) had already ventured into the light, both with melodic rock-oriented Eric Martin Band, and as a more soul-leaning solo artist.

Growing up on U.S. military bases across Europe, the young Martin was introduced to the sounds of Otis Redding and Wilson Pickett. Such influences never ceased to define and motivate his musical pursuits - in his three previous albums, and shaping the character of Mr.Big. The group was made complete with talents of guitarist Gilbert and drummer Torpey. Hailing from Pittsburgh, Gilbert was already a well-respected guitarist who had released four highly-touted albums with his Los Angeles-based band, Racer X. Torpey came to California after playing his dues behind the kit in the Arizona rock community. He soon became a much sought-after road horse, touring with a number of high-profile artists, most notably Robert Plant.

Mr Big first broke ground in 1989 with their self-titled Atlantic Records debut, which received extensive radio play with the "Big Love" and "Addicted To That Rush" singles - the latter of which may have prompted labelmates Rush to invite the band on tour. The band returned in 1991 with "LEAN INTO IT", an album that further strengthened their reputation, and, in the process, went RIAA platinum.

The album's "To Be With You" single went #1 in Australia, Austria, Canada, Denmark, Germany, Holland, New Zeland, Norway, Sweden, Switzerland, and in the U.S., where the three week chart-topper leapt RIAA gold. Released in 1993, the internationally acclaimed "BUMP AHEAD" garnered solid airplay with the group's deft handling of Cat Stevens' "Wild World." The subsequent tour saw the band opening for Aerosmith during dates across Europe, headlining in front of over 100,000 people at a festival in Sao Paulo, Brazil, and staging three sold-out shows at Tokyo's famed Budokan arena - complete with a Cheap Trick-inspired encore of "Ain't That A Shame." On "HEY MAN", the group brings forth expert chops, strong voice, and a new-found creative punch into album that reminds listeners exactly what it means rock."

But what happened in 1997?

As Eric Martin said, they needed to stop for a while and be on their own, with their family. In the meanwhile, each member of the band has been busy working on their projects: Eric Martin, published, in 1998, his solo album called "Somewhere in the middle" (Atlantis Records).

Featuring a lot of well known musician (Matt Sorum, Billy Duffy, Steve Lukhater and bandmates Paul Gilbert and Billy Sheehan for naming a few) Pat "Torpedo" Torpey released, in the same year as Eric, "Odd Man Out", his album, where you can really hear how he greatly sings and write songs; Pat also published his second work called "Y2K" featuring musician like Derek Sherinian and Pat Regan . Both were released only in Japan.

Billy, recorded three albums with Niacin, his critically acclaimed instrumental fusion trio, along with Dennis Chambers and John Novello; The 3 CDs are: "Niacin" dated 1997, "High Bias" 1998, and "Deep" 2000.

On "High Bias" you can hear guests like Pat Torpey, Alex Acu馻 and Chick Corea. "High Bias", with Lukather, has seen the appareance of the great Glenn Hughes (Deep Purple bassist and Black Sabbath lead singer), as the singer. Billy released a live (late 1998) with is old band Talas from their sold out show at Kleinhan's Music Hall in Buffalo, New York. Still in the works are a pair of upcoming Billy Sheehan solo albums: one to be a instrumental bass showcase, the other a more song-oriented rock album with Sheehan handling all vocal parts.

Paul Gilbert started his solo career with "King of Clubs" in 1998 with John Alderete, Bruce Bouillet his friends from RacerX and having Steve Martin (ex singer of RacerX) at the drumkit. This CD also features Pat Torpey.

In 1999 (Mr.Big 10th year's anniversary) the band decided for a reunion, but (sadly) Paul decided not to join back the band, deciding to continue to be a solo musician. "We never wanted to change the band but we didn't know what else to do," says Sheehan. "After a lot of talking between myself, Pat, and Eric, we decided to keep the band going. Once we'd settled that, Richie was the first guy to come to mind." So Richie Kotzen, which has played with Poison and released a few solo albums, joined the band and they released "Get Over It", a more bluesy oriented CD. The song "Superfantastic" has climbed up the top 10 in Japan becoming a great blockbuster single.

In the same times, Paul Gilbert has released "Beehive Live" a live CD recorded in Japan which included songs from "King of Clubs" and some brand new songs. In 1999 Paul has published "Flying Dog" and toured in Japan.
This year he has decided for a Racer X reunion and they recorded "Technical Difficulties" without Bruce Bouillet which is havining health problems with hands (best whishes Bruce!!). PG also released his third solo album called "Alligator Farm" on June 28 in Japan. Now he is planning to record another Racer X album.
»» Read More